Hari ini menjadi hari pertama aku bisa minum minuman berakohol lagi. Sebelumnya, aku “puasa” minum minuman berakohol dalam rangka nazar. Aku baru bisa minum minuman beralkohol lagi setelah berhasil memperoleh pendapatan pertama setelah mengundurkan diri.

Setelah lebih dari tiga bulan setengah berpuasa, akhirnya aku bisa menikmati minuman alkohol lagi hari ini. Tapi, aku tidak memakai kesempatan itu meski partnerku sudah menawarkan beberapa kali. Entah itu bir dingin atau soju, aku menolaknya.

Kupikir aku menikmati pencapaian baruku hari ini. Hanya saja, terlalu cepat untuk merayakannya saat ini. Jadi, kutunda saja.

Saat mengetahuinya, aku dan partnerku sedang di mobil dan menyusuri di…


“Apa kabarmu hari ini?”

Hampir saja aku menyelesaikan kalimat tanya itu dengan panggilan “Sappo” atau “Oi, Anak Muda”. Menonton tayangan langsung seorang pemain PUBG asal Makassar ini menjadi kegiatan tambahanku akhir-akhir ini. Nama asli pemain itu, Salam Alfatih.

Ia bermain dengan beberapa temannya. Paling sering, ia bermain bersama Abang BJ (kurasa ini bukan nama aslinya) yang berasal dari Medan dan Bencana (terlebih lagi ini — pasti bukan nama aslinya) yang berasal dari Tegal. Mereka bermain PUBG sehari dua kali dan ditayangkan langsung di platform streaming bernama Nimo TV.

Tentu ada orang lain yang juga menayangkan mereka bermain permainan daring, macam…


Baru kusadari bahwa, saat menyabotase diri, aku terlalu banyak berpikir. Maksudku, berpikir macam-macam, seperti “Nanti kalo A gimana?”, “Nanti kalo B sampe terjadi, aku harus apa?”, “Pasti sih, C bakal kejadian”, dan seterusnya sampe Z. Ujung-ujungnya, tidak kulakukan karena terlalu banyak mikir itu.

Sama seperti saat aku bilang mau berkomitmen untuk menulis lebih sering. Kebanyakan mikir mau tulis apa, topiknya soal apa, angle tulisannya seperti apa, sampai mikir kutipan pemungkasnya apa. Padahal mah, belum tentu jadi tulisan juga kalo kebanyakan mikir kayak gitu. Akhirnya, ngomongnya nanti-nanti-nanti-nanti terus dan nggak jadi tulisan apa-apa.

Kupikir, dengan menyadari kekuranganku ini, aku jadi tahu…


Aku tahu bahwa aku sering melakukan sabotase diri. Alasannya macam-macam; entar dululah, mikir yang tidak-tidak hingga males sendiri untuk mengerjakannya, atau merasa melakukan itu nggak bakal memberi efek apa-apa.

Setelah sebulan lebih berhenti bekerja, aku menengok ke belakang untuk tahu seberapa jauh aku jalan. Nyatanya, tidak maju-maju kok. Masih di situ-situ saja.

Aku tidak merasa hal ini benar atau salah, tepat atau tidak. Hanya saja aku kini melihat dirik bisa berjalan lambat. Di kantorku dulu, aku selalu berlari cepat dan tidak menikmati perjalanan sama sekali. Bisa dibilang aku cukup ambisius saat itu. Ingin ini-itu, mau ini-itu, hingga aku secara tidak…


Hai, Mas D.
I thanked you and I think it’s fine to accept things that don’t go as we planned.

Aku baru saja selesai membaca buku kuningmu. Sebenarnya, aku agak sedikit ge-er kamu memilih warna kuning karena itu warna kesukaanku? Tapi, kuanggap sampul kuning merupakan pilihan bagus karena warna ini cukup mencolok jika ada di rak toko buku. Kuakui itu trik pemasaran yang baik, meski ada beberapa buku berwarna kuning. Terima kasih, omong-omong.

Sebelum buku ini, aku juga sudah baca buku hitammu. Aku menandai beberapa bagian di buku itu yang ditujukan untukku dan mantanmu sebelum aku. Aku senang akhirnya buku…


Aku bukanlah orang yang pemberani. Maksudku, ya aku bukan penakut juga. Hanya saja aku merasa kadang aku lebih memilih untuk tidak melakukan beberapa hal tertentu. Tujuannya seringkali karena aku menghindari drama.

Contohnya, ada orang kantor yang mungkin berusaha untuk menjatuhkan diriku saat tim kami rapat. Dia menuduhku tidak melakukan apa-apa sehingga target perusahaan tidak tercapai. Padahal, tidak demikian. Aku tidak seperti yang ia tuduhkan. Tapi, terkadang aku malas berurusan dengan orang itu, sehingga aku lebih memilih diam. …


Merenungkan satu tahun terakhir terkadang menyenangkan, terkadang melelahkan.

Tahun lalu, aku merayakan hari ulang tahun dengan “balas dendam” kecil-kecilan. Aku membeli beberapa barang yang kubutuhkan dan tidak kuperlukan. Semua kulakukan hanya karena “aku bisa”.

Ada bagian diriku merasa tertantang saat aku dikatai memanfaatkan orang lain hanya untuk memenuhi keinginanku. Hampir saja saat itu aku membayar DP rumah hanya untuk membuktikan bahwa mereka salah. Tapi, untung saja saat itu beberapa temanku mengingatkanku untuk tidak berbuat hal bodoh yang berlebihan macam membeli rumah di tengah situasi pandemi.

Alhasil, saat itu aku tidak menghabiskan uang tabunganku untuk apa-apa. Tapi, aku menyisihkan uang untuk…


Ada kebiasaan lama yang belum hilang setelah berhenti bekerja. Aku masih bangun pagi-pagi karena kaget gara-gara kepikiran apa ada call meeting apa hari itu. Saat sadar, aku berpikir, “Oh ya, kan sudah nggak kerja lagi.” Lalu, aku kembali tidur sejenak.

Saat ditanya oleh beberapa teman dekatku soal apa yang ingin kulakukan setelah putus kerja, aku masih bilang bahwa aku ingin istirahat. Sebenarnya aku ingin menikmati sejenak hidup lambat; sebuah perjalanan yang hampir tidak pernah aku alami sebelumnya.

Hari ini aku dan pacarku menonton video wawancara Soleh Solihun dengan Jason Ranti. Jujur saja, lagu-lagu Jason Ranti ini bukan seleraku. …


Tebak siapa yang baru saja melewati dua hari tidak bekerja kantoran.

Aku masih berpikir bahwa aku bisa jadi tidak mampu bertahan tanpa pekerjaan regular. Padahal, sebenarnya pekerjaan itu bisa jadi bukan soal di mana, tapi siapa. Atau, bukan perkara apa, tapi kenapa. Atau, bukan tentang berapa, tapi bagaimana.

Ada masanya di mana aku merasa kantor jadi tempat yang menyenangkan untukku mengaktualisasikan diri. Aku ingat betapa bersemangatnya aku pergi ke kantor dan bekerja di sana. Pergi jam 9 pagi, sampai di kantor jam setengah 11 karena menggunakan kendaraan umum, bekerja bersama kolega hingga jam setengah 7 malam, lanjut kerja sendiri hingga…


Besok akan jadi hari pertama aku tidak bekerja. Tanggal 30 April kemarin menandai hari terakhirku bekerja di sebuah perusahaan start-up yang membuat aplikasi ibu hamil dan pengasuhan.

Jika diingat-ingat, dulu aku pernah memutuskan untuk berhenti bekerja karena ingin jalan-jalan ke Australia dan sekolah lagi ke Taiwan. Pengalaman saat itu membuatku sangatlah tidak nyaman. Aku tidak punya tabungan, tapi sok-sok-an bergaya mencoba tidak bekerja, padahal aku sangat bergantung sekali pada gajian tiap bulannya. Tentu saja saat itu, aku seringkali menangis ketakutan karena kekhawatiran dan kegelisahan yang tidak perlu.

Tapi, kali ini aku merasa mantap sekali untuk berhenti bekerja dan mengambil rehat…

M.

hello. i hope you still want to read my shits.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store